Bu dr kata bau: berbau; lasim digunakan sebagai awalan dari kata-kata yang menyatakan berbau, mis:
Busarungngu’: berbau harum; busarungngu’ tu kalemu: badanmu berbau harum;
Busellen: berbau tidak enak seperti bau musang
Bumokko’: basi, berbau basi; bumokko tu pa’piong
Bumammi’: berbau sedap;
Bupangden: berbau pengden (sej. Rumput yang harum);
Butassik: berbau kotoran (tahi);
Busirrik: berbau pesing, berbau kencing;
Bumarran = buma’rak: berbau anyir;
Buallo = bua’lok: berbau apek karena terlalu banyak kenas panas matahari;
Tang buapa: tidak berbau apa-apa, art: tidak sedap, tawar, hambar.
Bua’ I: (1) sesuatu pesta besar yang dilakukan dan dirayakan oleh segenap penduduk dari satu lingkungan kampung, maksudnya untuk memohon berkat atas manusia, hewan dan tanaman, dll.
Bua’ Padang = La’pa’ Padang = Bua’ Pare (Rembon) = Menani Pare (Makale): pesta bua’ mengenai tanah, maksudnya memohonkan berkat atas hasil bumi terutama padi;
Bua’ Kasalle = La’pa’ Bua’: pesta bua’ yang besar, maksudnya memohon berkat atas manusia, hewan dan tanaman, dll;
Bua’ Pandan (Baruppu’): sejenis pesta bua’ yang khusus untuk tanaman;
Ma’bua’: mengadakan atau melakukan pesta bua’;
Bua’ Sang Bongi: melakukan pesta yang hanya diselenggarakan dalam satu malam saja;
(2) lingkungan kampung yang penduduknya bersama-sama melakukan pesta bua’ atau kampung-kampung dalam distrik melakukan pesta bua’;
Bua’ II: (1) guna, faedah;
Apa bua’: apa guna, art: tidak ada gunanya;
Bua’na: gunanya, faedahnya;
(2) kabua’: berbuat, mengerjakan (biasanya ttg pekerjaan merusakkan);
Napobua’: disebabkan oleh (perbuatannya);
Tuanmo tu tampo napobua’ tedong: pematang itu sudah runtuh disebabkan kerbau;
Pa’pobua’na: disebabkan oleh perbuatannya, akibat perbuatannya;
Bua’rika: apa boleh buat;
Bua’rika dipatumba: apa mau dibuat, akan diapakan lagi;
Bua’piraka: sudahlah.., apa yang dibuat lagi, art: apa yang sudah berlaku atau dibuat tidak dapat ditarik lagi.
Bua’ III: (1) menghunus untuk memperlihatkan kegagahan ( ttg parang, dsb. Seperti orang yang menggertak atau orang yang memberontak);
Umbua’ la’bo’na: menghunus pedangnya dengan sikap kesatria;
Tang tibua’ tu la’bo’na: pedangnya tidak terhunus;
(2) Tibua’: terdorong, maju terdorong seperti bajak yang ditarik kerbau;
Bua’ Tengko: dalam kata: maju terdorong seperti bajak yang ditarik kerbau.
Bua’ IV: Bua’ Mata: tentang mengangkat mata untuk memandang;
Tang nabela umbua’ matanna: dia tidak mampu mengangkat matanya (ttg orang yang sakit keras atau tetang orang pemalu);
Umbuaran matanna: mengangkat dan membuka matanya.
Buak: membalikkan (ttg tanah yang digali, dsb);
Tibuak: terbongkar lalu terbali (ttg tanah, dll);
Umbuak Suru’: melakukan persembahan pendahuluan sebelum pesta besar (mis: pesta rumah baru, dll);
Buakan Suru’: (1) hal memulai membuka persembahan (2) persembahan pembukaan (pendahuluan).
dr kamu toradja-indo
